Tuesday, October 22, 2019

Profil

A.    LATAR BELAKANG
Sekitar dua atau tiga dekade yang lalu, Islam yang hidup di Indonesia memang nyaris luput dari pengamatan dunia. Meskipun Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun posisi geografis Indonesia yang terletak di ujung timur dunia Islam dan sangat low profile di panggung intelektual, ekonomi, sosial dan politik internasional, menjadi sangat potensial diabaikan oleh publik dan pengamat internasional. Di sisi lain, mengkaji Indonesia, relatif masih dianggap sebagai hambatan bagi akademisi dan politisi dunia yang menjadikan karir sebagai target utama.

Keunikan Islam Indonesia yang berbeda dengan Islam di kawasan lain, serta luput dari perhatian Huntington adalah perkembangan Islam yang cenderung mau menerima modernitas, menyuarakan pluralisme dan toleransi beragama, serta senantiasa mengangkat sisi Tuhan Yang Ramah dan Penyayang. Gerakan-gerakan kultural yang dewasa ini mendominasi wacana kalangan tradisionalis (dan post-tradisionalis) di Indonesia, dapat dinilai sebagai indikator utamanya.

Di sisi lain, maraknya aksi dan gerakan neo modernisme Indonesia, juga dapat dinilai sebagai salah satu indikator tersebut. Gerakan-gerakan kultural ini merupakan paham khas Indonesia yang memahami teks dan tradisi Islam dengan perspektif ganda, yaitu etika sosial dan kesalehan individu, sekaligus, pada saat yang sama, tidak menonjolkan perbedaan-perbedaan sara. Dalam hal khusus, Abdurrahman Wahid misalnya pernah menolak pandangan beberapa pengamat Barat yang menganggap bahwa fundamentalisme Timur Tengah memiliki pengaruh besar bagi mahasiswa Indonesia. Wahid selalu menegaskan bahwa Islam dan kebudayaan Arab adalah dua hal yang ‘berbeda’. Selain Wahid, sosok Nurcholish Madjid juga memiliki peran khusus. Ia berhasil menggali tradisi pluralisme Islam dan Indonesia, melalui metode filologis dan historis yang tetap bernuansa teologis.
Perkembangan kebudayaan Islam menurutnya, merupakan hasilakulturasi antara nilai-naili Islam yang universal dan ciri-ciri kultural kepulauan nusantara. Dalam konteks inilah, ia menunjukkan bahwa kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia, memiliki akar-akar tradisional bagi pluralisme modern.

Taufik Abdullah juga pernah menunjuk Departemen Agama sebagai salah satu pemeran utama dalam salah satu sisi gerakan kultural ini. Kebijakan-kebijakan agama yang sealur dengan dengan misi ini dilegitimasi secara struktural oleh negara via Menteri Agama. Menteri Agama praktis mendapat tugas memainkan peran-peran khusus yang saling terkait. Mereka diharap dapat menjadi juru bicara pemerintah, sekaligus membela kepentingan umat Islam dalam meningkatkan kualitas dan intelektualitas umat. Dalam konteks yang lebih luas, mereka juga ditunjuk sebagai penanggung jawab berlangsungnya hubungan yang harmonis antara berbagai agama di Indonesia. Mukti Ali, Alamsyah Ratuperwiranegara dan Munawir Syadzali relatif berhasil memainkan peran Menteri Agama yang diharapkan dalam membina hubungan harmonis ini. Namun demikian, keberhasilan-keberhasilan ini juga memberikan efek samping yang tidak kalah bahayanya, yaitu semakin besar dan dominannya posisi negara di hadapan rakyat.

Beberapa kecenderungan kesarjanaan Islam Indonesia juga turut membantu menjelaskan sisi Islam yang ramah di Indonesia. Kelincahan sarjana-sarjana Indonesia yang terdidik melalui tradisi Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora, dalam menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan antropologis ketika mengkaji Islam di Indonesia, sangat kontributif dalam misi ini. Moeslim Abdurrahman misalnya mampu menjelaskan fenomena khas ibadah haji di Indonesia, dengan menggunakan teori liminalitas dan komunitas yang dikembangkan oleh Victor Turner. Menurut Moeslim, fasilitas eksklusif dalam pelaksanaan ibadah haji (ONH Plus) telah menghilangkan konsep “komunitas” yang seharusnya menjadi ciri perjalanan ibadah haji. Ibadah haji saat ini bukan lagi untuk menegaskan identitas keagamaan, tetapi ingin menegaskan identitas kelas. Lintas disipliner seperti yang dikembangkan kesarjanaan Indonesia ini, sangat kontributif bagi pemunculan sisi Islam yang ramah dan toleran. Namun tetap perlu disadari bahwa klaim kebenaran dalam tradisi Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora yang sekular itu, tidak dapat dicampur adukkan dengan klaim kebenaran teologis.
* * * *
Satu hal penting dalam mengamati perkembangan Islam di Indonesia adalah bahwa Islam dengan pilar utamanya NU dan Muhammadiyah, berhasil bermain sebagai salah satu penjaga demokrasi; kejadian yang nyaris absen di negara berpenduduk Muslim lainnya. Bahkan ketika Indonesia tertuduh sebagai pabrik teroris, Indonesia bisa bertahan dan mendapat simpati dari masyarakat dunia. Dalam beberapa kesempatan lawatan internasional Presiden SBY,beberapa negara menawarkan agar Indonesia mengambil peran penting dalam mewakili negara-negara berpenduduk Muslim. Diplomasi yang dilakukan baik oleh diplomat profesional maupun oleh pemimpin-pemimpin NU dan Muhammadiyah berhasil meyakinkan dunia bahwa Indonesia bukan negara penghasil teroris. Terakhir, Indonesia berhasil dihapus dalam daftar negara-negara produsen teroris.

Kini Indonesia mesti memulai lagi membangun kekuatan masyarakat sipil yang sempat terbengkalai oleh isu-isu terorisme. Membangun kekuatan civil society ini bahkan menjadi urgent jika melihat situasi sosial dan politik nasional. Jika dulu pengembangkan kekuatan masyarakat sipil sering dihubungkan dengan kuatnya hegemoni negara (eksekutif), kini penguatan masyarakat sipil akan selalu dihubungkan dengan menguatnya serta dominannya posisi legislatif.

Beragama atau berkeyakinan selalu menjadi sesuatu yang sangat universal. Semua masyarakat nyaris memiliki keyakinan, untuk tidak selalu menyebut agama. Masyarakat dan bangsa yang besar dengan sains, seni atau filsafat mungkin jarang ditemukan, tetapi masyarakat yang hidup dengan agama atau keyakinan dapat ditemukan di mana-mana. Bahkan, pada level berikutnya, bangsa atau masyarakat yang besar karena agama dan keyakinan dapat dihitung jari.

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang menghargai pahlawannya, tetapi juga mampu melestarikan budaya dan kemajemukan yang dimilikinya. Indonesia patut bersyukur dan  berbangga karena memiliki keragaman yang nyaris tidak dimiliki oleh bangsa lain. Keragaman ini bahkan mencakup ras lokal, bahasa lokal, agama hingga agama-agama lokal.

Beberapa indikator inilah yang pernah disebut-sebut Woodward sebagai sesuatu yang baru dan lain dalam sejarah Islam. Woodward selalu ingin menegaskan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia, sangat berbeda dengan Islam yang menyejarah di kawasan lainnya. Karenanya, sisi Islam yang selalu menonjolkan aspek keilahian yang penyayang, harus terus dikembangkan, melalui riset-riset yang komprehensif.

B. Visi

Menjadi lembaga terkemuka dalam menciptakan masyarakat sipil yang ramah, toleran  dan berkeadaban.

C. Misi

  • Berperan aktif dalam gerakan kontra radikalisme dan terorisme yang terkait dengan faktor keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
  • Melakukan riset, pelatihan, advokasi, dan konsultasi gerakan damai dalam kehidupan sosial keagamaan.
  • Melakukan kajian kemasyarakatan dan keagamaan yang mendorong pada pemahaman yang inklusif dan toleran.
  • Mengembangkan pendidikan yang berbasis multikulturalisme
  • Aktif dalam kajian Good Governance dan demokrasi
  • Melakukan kegiatan-kegiatan bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat
  • Menerbitkan karya-karya bermutu dan berkualitas bagi pengembangan Islam yang damai, moderat, dan berkeadaban.
  • Mengembangkan jaringan kelembagaan bagi penguatan program lembaga

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.